Jumat, 29 April 2011

PENYULUH SISTEM AGRIBISNIS

Penyuluhan sistem agribisnis juga memerlukan perubahan perilaku penyuluh, yakni harus mampu: (a) meningkatkan profesionalisme penyuluh dengan melakukan perbaikan mutu layanan secara terus menerus yang mengacu kepada kebutuhan dan kepuasan pelanggannya; (b) menguasai materi penyuluhan yang menyangkut teknis produksi, manajemen agribisnis, manajemen hubungan sistem agribisnis, informasi permintaan pasar atau kebutuhan konsumen, jiwa kewirausahaan, serta etika bisnis dan keunggulan bersaing; (c) tidak menjadikan petani dan perusahaan agribisnis lainnya sebagai obyek tetapi sebagai subyek yang dapat menentukan masa depannya sendiri; dan (d) melakukan fungsi melayani (konsultatif) dengan sistem “menu”.


Untuk mendukung strategi pendekatan “penyuluhan sistem agribisnis” maka, penyuluh seharusnya tetap berpegang pada falsafah dasar penyuluhan pertanian (Slamet, 1969 dan
Samsudin, 1987), yaitu: (1) penyuluhan merupakan proses pendidikan, (2) penyuluhan merupakan proses demokrasi, dan (3) penyuluhan merupakan proses kontinyu. Penyuluh juga sebaiknya tetap berpegang pada prinsip-prinsip penyuluhan (Dahama dan Bhatnagar, 1980), antara lain: (1) penyuluhan akan efektif bila mengacu kepada minat dan kebutuhan sasaran, (2) penyuluhan harus mampu menggerakkan partisipasi masyarakat untuk bekerjasama dalam merencanakan dan melaksanakan program penyuluhan, (3) penyuluh mendorong terjadinya belajar sambil bekerja, (4) penyuluh harus orang yang sudah terlatih dan benar-benar menguasai materi yang akan disuluhkan, (5) metode penyuluhan disesuaikan dengan kondisi spesifik sasaran (lingkungan fisik, kemampuan ekonomi, dan sosial budaya), dan (6) penyuluhan harus mampu mengembangkan kepemimpinan partisipatif.


Peran penyuluh adalah mengembangkan kekondusifan lingkungan belajar bagi sasaran penyuluhan untuk belajar secara mandiri, dan memberikan konsultasi bagi petani peternak atau pengusaha agribisnis lain yang memerlukan. Penyuluh berkewajiban menyadarkan sasaran penyuluhan tentang adanya kebutuhan yang nyata (real need atau unfelt need) menjadi kebutuhan yang dirasakan (felt need). Penyuluh harus mampu mengajak sasaran penyuluhan berpikir, berdiskusi, menyelesaikan masalahnya, merencanakan dan bertindak bersama-sama sehingga terjadi pemecahan masalah dari mereka, oleh mereka, dan untuk mereka.

Penyuluh akan semakin mampu menerapkan “pendekatan penyuluhan sistem agribisnis” yang makin efektif apabila mampu menghayati secara sungguh-sungguh materi penyuluhan sistem agribisnis, dan makin berkemampuan tinggi dalam menerapkan keanekaragaman metode penyuluhan dan media komunikasi kepada sasarannya secara tepat dan bijak.


Untuk keberhasilan penyuluhan sistem agribisnis di masa depan, maka penyuluhan sistem agribisnis agar dilakukan oleh “penyuluh profesional,” yang dapat berasal dari penyuluh dinas ataupun penyuluh swasta, yang mempunyai kompetensi dan komitmen diri yang tinggi untuk menjaga profesionalisme penyuluh. Dalam kamus besar Bahasa Indonesia (1999), profesional diartikan sebagai memerlukan kepandaian khusus untuk menjalankannya serta mengharuskan adanya pembayaran atas jasa profesi. Profesionalisme penyuluh disamping mencerminkan keahliannya, juga harus mampu menunjukkan mutu layanannya, kemandirin dan kewirausahaan.

MENGGALI POTENSI DIRI

Setiap manusia dilahirkan kedunia dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Diciptakan demikian agar manusia dapat saling melengkapi satu sama lain. Tugas manusia hanyalah menggali kemampuan yang dimiliki.

Sering kita merasa bahwa kita tidak bisa berprestasi seperti mereka. Selalu merasa bahwa rumput tetangga selalu lebih hijau. Padahal di setiap diri manusia terdapat potensi yang bermacam-macam yang setiap manusia tidak sama. Tetapi tidak semua manusia dapat mengukur potensi yang mereka punya. Bahkan ada yang beranggapan bahwa hal itu bukanlah hal yang penting. Padahal mengetahui potensi diri sangatlah bermanfaat. Dengan mengetahui potensi diri akan mudah bagi kita untuk mencari pekerjaan. Dan pekerjaan yang kita lakukan akan tersa mudah karena sesuai dengan minat dan bakat yang kita punya.
“Lalu bagaimana cara menggali kemampuan diri??”

Selalu muncul pertanyaan seperti ini dalam diri manusia. Mereka selalu merasa bahwa mereka hanyalah manusia yang tidak memiliki sesuatu yang special. Harusnya pertanyaan seperti ini dihapus. Harusnya kita percaya bahwa ada sesuat dalam diri kita yang istimewa.Sebelumnya perlu diketahui bahwa potensi diri tidak selalu dalam bidang akademik atau hard skill saja. Tetapi ada juga yang disebut soft skill. Banyak cara yang dapat dilakukan untuk menggali potensi diri. Pertama, Kita dapat mulai dari hobi atau kebiasaan yang sering kita lakukan. Misal yang mempunyai hobi menulis.  Tulisannya akan lebih bermanfaat aasih pabila dikembangkan dalam bentuk karya tulis, blog atau novel. Kedua, dari minat kita. Kemana minat akan membawa kita. Sesuatu yang dilakuakn sesuai dengan minat akan berjalan mulus. Dan dari minat itu kan menghasilkan sebuah prestasi. Atau bisa juga dengan cara aktif mengikuti organisasi. Dalam sebuah organisasi dengan sendirinya akan melatih soft skil kita. Dari berorganisai akan melatih soft skill kita seperti kepemimpinan, kemampuan berbicara di depan umum, dan masih banyak lagi.
Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam usaha kita menggali potensi diri kita:
1.       Niat
2.       Kenali hobi diri sendiri
3.       Telusuri minat dan bakat kita
4.       Jangan lelah mencoba hal-hal baru.
5.       Jangan pernah menyerah
6.       Jika gagal jangan patah semangat,terus mecoba dan belajar dari kesalahan terdahulu.
Dengan begitu kita dapat menggali potensi yang ada pada diri kita dan menghasilkan sebuah prestasi.
Saat ini mahasiswa seddang mengalami perubahan masa dari masa remaja ke masa pendewasaan. Masing-masing sibuk mencari jati diri. Mencari potensi apa yang ada dalam diri mereka. Saat musim pertama kuliah mahasiswa baru disuguhi dengan beberapa UKM yang ada di ITS. Setiap mahasiswa  boleh memilih jenis UKM yang sesuai dengan hobi dan minat masing-masing.
Cara lain untuk mengetahui kemampuan kita adalah dengan mengikuti acara Latihan Kepemimpinan dan Manajemen Mahasiswa( LKMM).Acara ini bersifat pelatihan ketrampilan mahasiswa untuk mengetahui kemampuan diri. Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi mahasiswa baru untuk mengetahui potensi mereka. Dari potensi yang mereka miliki dapat dikembangkan sehingga menjadi sebuah prestasi yang membanggakan.

Kamis, 28 April 2011

TEKNOLOGI AYAM POTONG LOKAL MENUMBUHKAN SUMBER PENDAPATAN BARU DI JAWA TENGAH


Dian Maharso Yuwono - Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Tengah
Ayam kampung selama ini mempunyai posisi yang tinggi dalam memenuhi selera konsumen karena dagingnya yang lebih enak dibanding ayam broiler, sehingga ayam kampung harganya relatif mahal. Namun untuk memenuhi tingginya kebutuhan konsumen tersebut terkendala oleh rendahnya pasokan, yang disebabkan reproduksi dan pertumbuhan bobot badannya yang lambat.
Adalah peluang usaha untuk bisa memproduksi ayam dalam jumlah besar dan waktu yang singkat, yang dagingnya mirip dengan daging ayam kampung. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Jawa Tengah telah menghasilkan paket rekomendasi teknologi ayam potong lokal (APL) atau ayam hibrida, yakni dengan menyilangkan pejantan ayam kampung dengan betina ayam ras petelur.
Hasilnya, pertumbuhan bobot badan APL lebih cepat dibandingkan ayam kampung. Bobot badan APL umur 1 hari rata-rata 29,8 g/ekor, setelah umur 30 hari bobotnya menjadi rata-rata 434,5 g/ekor dan pada umur 70 hari, dimana APL siap panen, bobotnya mencapai sekitar 0,9-1,2 kg/ekor. Sedangkan ayam kampung pada umur yang sama, dengan manajemen pemeliharaan yang hampir sama, bobot badannya hanya mencapai sekitar 0,5-0,6 kg/ekor.
Pakan yang dihabiskan APL selama masa penggemukan sebanyak 2,5 kg atau feed conversi ratio (FCR) sebesar 2,1-2,8 artinya setiap 1 kg bobot badan APL membutuhkan pakan sekitar 2,1-2,8 kg.
Apabila usaha APL diusahakan dengan pendekatan agribisnis secara utuh maka diperoleh berbagai nilai tambah, yakni nilai tambah dari telur konsumsi menjadi telur tetas, nilai tambah dari telur tetas menjadi anak ayam umur sehari atau day old chick (DOC), dan nilai tambah dari DOC menjadi APL siap potong (usaha pembesaran).
Sebagai gambaran, harga telur konsumsi Rp. 800/butir, setelah di IB akan dihasilkan telur tetas dengan harga Rp. 1.300/butir, telur tetas tersebut apabila ditetaskan akan menghasilkan DOC dengan harga Rp. 5.000/ekor, adapun harga APL siap potong Rp 25.000/ekor dan harga ransum APL sekitar Rp. 4.000/kg.

Sembuhkan Rematik dengan Terapi Sengat Lebah


Sengatan leba selain mengandung racun yang panas, juga memiliki khasiat penyembuhan gangguan kesehatan seperti radang sendi atau rematik. Dengan metode akupunktur sengat lebah atau lebih dikenal dengan apipunktur bisa digunakan untuk penyembuhan rematik. 
Ismono Soeharto, seorang ahli apipunktur dari Peternakan Lebah Madu, Pondok Lebah mengatakan, aphiteraphy ini telah dikenal selama ribuan tahun. Selain dikenal dapat mengobati rematik atau sendi, apipunktur juga berfungsi membantu memulihkan fungsi organ tubuh, di antaranya: mengurangi sakit kronis seperti osteoarthritis, tendonitis dan bursitis. Juga dapat menyembuhkan cedera saat olahraga dan sakit punggung.

Teknik aphiterapis ini memiliki prinsip sama dengan akupunktur di mana jarum digantikan dengan sengat lebah dan ditusukkan pada titik-titik pembuluh darah yang terhubung dengan organ tubuh tertentu. Racun yang terdapat dalam sengat, kata Ismono, bersifat panas dan mampu mempercepat peredaran darah.

“Sebenarnya kebanyakan penyakit dalam yang sering diderita oleh manusia itu disebabkan saluran darahnya tersumbat, oleh karena itu sebab penyumbatan itu perlu diminimalisir. Sengat lebah ini mampu memperlancar peredaran darah dalam waktu singkat sehingga dapat menyembuhkan radang dan mengurangi rasa sakit,” terang Ismono.

Ismono mengatakan kandungan zat dalam sengat lebah seperti melitin, apamin, peptida 401 (MDC), inhibitor protease, dan norepinephrine mampu menormalkan fungsi pembuluh darah dan sudah diteliti oleh para ahli kesehatan dunia.

Ketika ingin melakukan terapi apipunktur ini, Ismono tidak langsung mengaplikasikan sengat lebah tersebut kepada pasien. Tergantung pada keluhan pasien yang merasa sakit di salah satu bagian tubuh. Jika di salah satu bagian tubuh itu permukaannya terasa kaku dan sakit berarti pembuluh darah di area itu sedang mengalami gangguan. Sebagai permulaan, Ismono akan mengaplikasikan sengat lebah pada titik pembuluh darah tersebut.

Mengelola Posisi Produsen Minyak Sawit Terbesar Dunia Secara Berkelanjutan

Sejak tahun 2007 yang lalu, Indonesia telah berhasil menjadi produsen minyak sawit (CPO) terbesar di dunia. Dengan produksi 17 juta ton waktu itu. Indonesia menguasai pangsa 44 persen CPO dunia, mengungguli Malaysia dengan pangsa 41 persen.
Pada saat yang sama, juga sedang terjadi perubahan pangsa CPO dalam pasar minyak nabati dunia. Minyak kedelai yang hampir 100 tahun menguasai pasar minyak nabati dunia, digeser minyak sawit. Sekitar 33 persen produksi minyak nabati dunia tahun 2007 bersumber dari minyak sawit, sementara pangsa minyak kedelai sekitar 29 persen berada pada urutan kedua.
Keberhasilan menjadi produsen CPO terbesar, jelas membanggakan sekaligus memiliki tantangan baru. Membanggakan, karena saat ini hanya kelapa sawit yang berhasil mencapai prestasi tingkat dunia dan membuat Indonesia dikenal secara Internasional. Dan prestasi yang demikian dihasilkan dari kerja keras Indonesia khususnya dalam 100 tahun terakhir, yang merupakan kolaborasi produktif antar perkebunan rakyat, perusahaan Negara dan perusahaan swasta asing dan domestik.
Prestasi tersebut melahirkan tantangan baru yakni bagaimana mempertahankannya sekaligus meningkatkan kualitas prestasi (naik kelas) secara berkelanjutan. Berhasil menjadi produsen CPO terbesar dunia masih lebih mudah (meskipun sulit) daripada menjadi produsen CPO terbesar dunia yang berhasil.
Kinerja menjadi produsen CPO terbesar yang berhasil apalagi ingin naik kelas secara berkelanjutan memerlukan seni tersendiri, paradigma baru, strategi dan kebijakan baru serta budaya baru.
Hal ini perlu diingatkan mengingat pengalaman kita di masa lalu membuktikan bahwa banyak komoditas yang berhasil menjadi salah satu produsen terbesar (rempah-rempah, gula, kayu, udang, karet) namun bukan hanya gagal dipertahankan, sebagian malah berubah menjadi importer, karena gagal “tukar gigi” paradigma, kebijakan dan budaya. Pengalaman tersebut hendaknya tidak terulang lagi dalam minyak sawit ke depan.
Paradigma dan Strategi Baru

Keberhasilan peningkatan produksi CPO sehingga meraih produsen terbesar dunia, sebagian besar disumbang oleh peningkatan luas areal kebun sawit. Sekitar 80 persen peningkatan produksi CPO selama ini diberhasilkan dari peningkatan luas areal, sedangkan 20 persen sisanya disumbang peningkatan produktivitas.

 
sumber : Prof. Dr. Ir. Bungaran Saragih, MEc